BERAWAL DARI CONTAINER
Sebuah Catatan Kehidupan dari Kabin Truk Ayah

Bagi banyak orang, tumpukan peti kemas di pelabuhan hanyalah pemandangan industri yang kaku, atau sekadar kotak besi raksasa yang sering dianggap pembuat macet jalanan. Namun bagi saya, kotak besi itu adalah napas. Ia adalah piring nasi di meja makan kami, atap yang melindungi rumah kami, dan sekolah kehidupan yang paling nyata. Sejak kecil, taman bermain saya bukanlah pusat perbelanjaan yang sejuk, melainkan kabin truk trailer yang tinggi—tempat di mana saya tumbuh besar ditemani irama mesin diesel dan aroma solar yang khas.
Ayah saya, seorang pengemudi truk ekspor-impor, mendidik saya menjadi seorang “petarung” jalanan yang lengkap. Pendidikan itu dimulai dari balik kemudi. Masih lekat dalam ingatan saat kaki kecil ini pertama kali mencoba menyeimbangkan kopling kendaraan yang panjangnya berkali-kali lipat dari mobil biasa.
Ternyata, menyetir trailer bukan sekadar soal memutar setir. Ayah selalu mengingatkan, “Membawa kepala truk itu mudah, tapi merasakan ekor gandengan itu yang butuh rasa.” Dari momen mengantre di depo yang panas hingga memundurkan gandengan ke loading dock pabrik yang sempit, saya belajar bahwa profesi ini menuntut perhitungan matang. Satu sentimeter saja meleset saat manuver, dampaknya bisa fatal.
Namun, menjadi sopir handal ternyata tidak cukup hanya dengan modal otot dan skill menyetir. Ayah menyeret saya masuk ke dalam rumitnya dunia birokrasi logistik. Saya diajari bagaimana telitinya mengurus dokumen perjalanan.
Mulai dari mengambil Surat Jalan (Surjal) di Depo saat mengambil container kosong, memastikan kelengkapan dokumen Bea Cukai di Pelabuhan agar barang bisa ekspor, hingga proses administrasi serah terima barang di gudang Pabrik. Saya belajar pelajaran berharga: bahwa ketelitian adalah segalanya. Satu lembar kertas yang salah atau tertinggal, bisa membuat truk raksasa ini tertahan berjam-jam, bahkan berhari-hari. Tanggung jawabnya bukan hanya fisik, tapi juga administratif.
Pelajaran berlanjut ke luar kabin. Ayah melatih saya untuk memiliki “Mata Elang” dalam membaca situasi dan keadaan. Sebelum roda berputar, ada ritual wajib yang tak boleh dilewatkan: mengecek kesehatan armada.
“Cek tekanan ban, pastikan rem tidak bocor, cek oli,” perintah itu selalu terngiang. Di perjalanan pun, saya diajari membaca karakter jalanan—apakah aspal ini cukup kuat menahan beban puluhan ton? Apakah tempat bongkar muat di tujuan aman untuk manuver alat berat? Insting ini dilatih bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk memastikan kami berangkat selamat dan pulang pun selamat.
Akan tetapi, dari semua ilmu teknis, dokumen, dan analisa itu, ada satu pelajaran pamungkas yang menjadi fondasi hidup saya hingga hari ini. Pelajaran tentang Hati. Di tengah kerasnya aspal dan panasnya persaingan jalanan, Ayah menanamkan nilai Sopan Santun dan Keamanan.
Kata-kata itu meruntuhkan arogansi masa muda saya. Saya sadar, menjadi penguasa jalanan bukan berarti menjadi raja yang semena-mena, melainkan menjadi pelindung bagi yang lebih kecil.
Blog ini adalah dedikasi saya untuk merekam jejak roda Ayah. Tentang bagaimana mengurus selembar dokumen dengan teliti, tentang cara memundurkan trailer dengan presisi, membaca keadaan jalan, dan yang terpenting: menjaga etika di jalan raya. Semua cerita, ilmu, dan harapan ini saya tulis karena satu alasan sederhana: segalanya berawal dari container.